Mengupas Center for Complexity Surya University

Sebagai universitas berbasis riset pertama di Indonesia, selain Surya University memiliki dosen pengajar profesional dan ahli dibidangnya masing-masing dari dalam dan luar negeri, juga menerapkan research-based learning dalam sistem pembelajarannya. Selain itu, Surya University juga didukung oleh puluhan research center untuk lebih mengembangkan kemampuan dan keahlian mahasiswa Surya University sebagai bekal mereka kelak.

Adalah Center for Complexity, salah satu research center di Surya University, yang dapat dipilih untuk mempelajari / mengkaji sistem kompleks, khususnya sistem kompleks sosial. Menurut Bapak Hokky Situngkir, Director of Center for Complexity Surya University, cikal bakal Center for Complexity sendiri adalah Bandung Fe Institute, yang telah mengkaji kompleksitas sosial semenjak tahun 2002. Bidang kajiannya meliputi ekonofisika, sosiologi komputasi, pemodelan sistem dinamik, dan berbagai sains kognitif. Sebagai Center for Complexity sendiri, penajaman kebijakan melalui ilmu pengetahuan adalah misi yang diemban dengan metode ilmiah dalam riset sains sebagai visinya.

Ada beberapa kegiatan baik research maupun supporting research yang diinisiasi oleh Center for Complexity Surya University ini, diantaranya yaitu Observindo, Newsmedia Processing Suite, "Physics of Batik version 2", "Phylomemetic Tree Batik" dan platform Perpustakaan Digital Budaya Indonesia di www.budaya-indonesia.org,” ungkap Bapak Hokky Situngkir.

Observindo dibuat dengan keinsyafan ilmiah bahwa memandang sistem kompleks seperti Indonesia mesti dilakukan sebagai kesatuan yang utuh dalam level perspektif hingga unit terkecil sosialnya. Dalam hal Indonesia, hal ini mesti dilakukan sejak dalam level desa karena desa merupakan unit mekanisme sosial terkecil dalam administrasi kehidupan sosial di Indonesia. Terkait hal itu, representasi data terkait kehidupan sosial di Indonesia juga perlu diperhatikan hingga ke level tersebut. Riset terkait kartogram, yaitu inovasi geo-visualisasi data, yang dirintis sejak 2007, telah mendorong kita untuk memadukan teknologi pemetaan geo-visual dengan prinsip memandang sistem kompleks tersebut. Hasilnya adalah Observindo dan tujuannya adalah memberikan perspektif kartografi (pemetaan) komputasional yang memiliki tingkat kedalaman resolusi geo-visualisasi data hingga level desa.

Saat ini resminya Observindo belum dirilis. Tetapi pembangunan perangkat lunaknya sudah bisa dikatakan 75% untuk fasa implementasi. Pengembangan Observindo tentunya masih akan terus berkembang seiring riset yang terus dijalankan di Center for Complexity Surya University,” tutur Pak Hokky Situngkir. 

Newsmedia Processing Suite (NPS) merupakan salah satu bentuk implementasi dari pengembangan komputasional dari Teori Kesetimbangan Sosial. Kajiannya dapat dilihat pada URL: http://arxiv.org/ftp/nlin/papers/0405/0405041.pdf dan kajian-kajian riset di Center for Complexity Surya University terkait sentimen dan ekspresi emosi pada pilihan kata. Implementasi dilakukan pada pernyataan-pernyataan selebritas melalui tangkapan jurnalisme media massa yang kemudian dipetakan menjadi Peta Sentimen Aktor Politik/Selebritas. Visualisasinya adalah peta konflik sosial elit politik secara keseluruhan yang ter-update berdasarkan pernyataan-pernyataan mereka di media massa. Sebagai contohnya bisa dilihat di https://instagram.com/p/fb8hrEyREK/?modal=true.

Newsmedia Processing Suite (NPS) mulai "mengudara" untuk akses online (dalam kalangan terbatas pengambil kebijakan/berlangganan) sejak 2014. NPS bertujuan untuk memberikan pengambil kebijakan dan pengguna terkait dinamika sosial di panggung selebritas nasional Indonesia,” jelasnya.

"Physics of Batik version 2" atau Fisika Batik versi 2, tidak lepas dari Fisika Batik yang lahir dari kajian Bapak Hokky Situngkir dan tim pada tahun 2009 dan dalam sebuah buku bertajuk serupa, dapat dilihat pada :

https://books.google.co.id/books?id=ewcNsFeI7y0C&lpg=PR3&ots=BcHVNUuRYm&dq=fisika%20batik%20yohanes%20surya%20gramedia&pg=PR3#v=onepage&q=fisika%20batik%20yohanes%20surya%20gramedia&f=false

Fisika Batik versi 2 lebih terkait pada platform komputasi yang digunakan untuk lebih akrab dalam perkembangan teknologi komputasi bergerak (mobile computing). Melalui perangkat lunak ini, kita akan dapat merancang motif batik sendiri dengan menggunakan pola geometri komputasional yang kita teliti sejak beberapa tahun lalu,” ungkap Bapak Hokky Situngkir.

Fisika Batik versi 2 secara resminya belum dirilis tetapi untuk pertama kali sudah diperkenalkan ke masyarakat luas dalam acara BhinnekaFest yang diselenggarakan di kampus Surya University pada hari Jumat (06/03) yang lalu. Perangkat lunak ini sendiri bertujuan untuk pelestarian budaya dan tradisi Indonesia melalui sains dan teknologi modern

"Phylomemetic Tree Batik" merupakan sebuah program komputasi bergerak (mobile computing) untuk mendeteksi motif batik sehingga kita bisa mengetahui kira-kira motif batik tertentu berasal dari mana, yang didapatkan dari pemetaan ribuan motif batik yang sudah dikumpulkan beberapa tahun belakangan ini. 

Phylomemetic Tree Batik adalah implementasi kelanjutan dari penelitian Fisika Batik. Berawal dari ribuan data batik yang dikumpulkan secara partisipatif melalui Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (www.budaya-indonesia.org) yang dirintis oleh center kita pada tahun 2008. Data yang ada kemudian dipetakan pola geometrisnya sebagai pohon kekerabatan batik Indonesia, yang bisa dilihat di http://compsoc.bandungfe.net/kartografi-indonesia/motif-EN.html”, ungkap Bapak Hokky Situngkir.

Ia juga mengungkapkan bahwa Phylomemetic Tree Batik untuk pertama kalinya dirilis ke khalayak luas pada saat penganugerahan Batik sebagai World Heritage from Indonesia dari UNESCO pada tanggal 20 Oktober 2009, bertempat di Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Melalui Phylomemetic Tree Batik ini kita dapat melihat kekerabatan mental kognitif orang Indonesia melalui tradisi visualnya, yaitu batik. 

Lebih lanjut, Bapak Hokky Situngkir pun menjelaskan bahwa diluar aktivitas riset, Center for Complexity Surya University juga melakukan berbagai ekspedisi dan kampanye pendataan budaya Indonesia untuk platform Perpustakaan Digital Budaya Indonesia di www.budaya-indonesia.org yang dibangun sejak tahun 2008.

Saat ini sudah terkumpul lebih dari 20,000 entri data yang dikumpulkan secara partisipatif. Sekarang juga sudah terbentuk berbagai komunitas Sobat Budaya di berbagai tempat di Indonesia (kini ada lebih dari 40-an Sobat Budaya se-Indoonesia) yang menjadi sukarelawan untuk membantu melengkapi data-data budaya di web tersebut,” tambahnya.

Kegiatan Center for Complexity Surya University saat ini adalah ekspedisi, dimana kita juga mengirimkan relawan untuk mendata budaya di daerah-daerah dan juga road show data budaya di kampus-kampus melalui acara bernama "Langlang Nuswapada".

Hari Jum'at (06/03) lalu, kita membuat acara Langlang Nuswapada bertema "BhinnekaFest" di Surya University sekaligus sebagai penutup mata kuliah Musik & Budaya Indonesia dengan asuhan Ibu Rita Sihite. Acara pun berlangsung meriah dan sukses,” ungkap Bapak Hokky Situngkir (***).

Berita Lainnya