Mayoritas Suplemen Makanan Tidak Meningkatkan Kesehatan Jantung Atau Menunda Kematian

Dalam sebuah analisis besar terbaru dari 277 uji klinis menggunakan 24 intervensi berbeda, peneliti Johns Hopkins Medicine mengatakan mereka telah menemukan bahwa hampir semua vitamin, mineral dan suplemen nutrisi atau diet tidak dapat dikaitkan dengan kehidupan yang lebih lama atau perlindungan dari penyakit jantung.

Meskipun mereka menemukan bahwa sebagian besar suplemen atau diet tidak terkait dengan berbagai hal yang membahayakan, namun analisis menunjukkan kemungkinan manfaat kesehatan hanya dari diet rendah garam, suplemen asam lemak omega-3 dan mungkin suplemen asam folat untuk beberapa orang. Para peneliti juga menemukan bahwa suplemen yang menggabungkan kalsium dan vitamin D sebenarnya dapat dikaitkan dengan resiko stroke yang sedikit meningkat.

Hasil analisis ini telah diterbitkan pada 8 Juli 2019 di Annals of Internal Medicine.

Survei oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menunjukkan bahwa 52% orang Amerika mengonsumsi setidaknya satu vitamin atau suplemen makanan / nutrisi lainnya setiap hari. Secara nasional, orang Amerika membelanjakan $ 31 miliar setiap tahun untuk produk yang dijual bebas. Berbagai penelitian - termasuk yang terbaru dari Johns Hopkins – belum bisa membuktikan adanya manfaat kesehatan dari kebanyakan suplemen-suplemen makanan atau vitamin-vitamin dimaksud.

"Obat mujarab atau peluru ajaib yang terus dicari orang dalam suplemen makanan tidak ada di sana," kata penulis senior studi tersebut, Erin D. Michos, MD, MHS, Direktur asosiasi pencegahan kardiologi di Ciccarone Center for Prevention of Cardiovascular Disease dan profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa orang-orang harus fokus pada upaya mendapatkan nutrisi dari diet jantung-sehat, karena data semakin menunjukkan bahwa mayoritas orang dewasa yang sehat tidak perlu mengonsumsi suplemen.

Untuk penelitian saat ini, para peneliti menggunakan data dari 277 uji klinis acak yang mengevaluasi 16 vitamin atau suplemen lain dan delapan diet dalam kaitannya dengan mortalitas atau kondisi jantung termasuk penyakit jantung koroner, stroke, dan serangan jantung. Secara keseluruhan mereka memasukkan data yang dikumpulkan pada 992.129 peserta penelitian di seluruh dunia.

Vitamin dan suplemen lain yang ditinjau termasuk: antioksidan, Karoten, vitamin B kompleks, multivitamin, selenium, vitamin A, vitamin B3/niasin, vitamin B6, vitamin C, vitamin E, vitamin D saja, kalsium saja, kalsium dan vitamin D bersama-sama, asam folat, zat besi dan asam lemak omega-3 (minyak ikan). Diet yang ditinjau adalah diet Mediterania, mengurangi lemak jenuh (lebih sedikit lemak dari daging dan susu), modifikasi asupan lemak diet (lebih sedikit lemak jenuh atau mengganti kalori dengan lebih banyak lemak tak jenuh atau karbohidrat), diet rendah lemak, diet rendah garam pada orang sehat dan orang-orang dengan tekanan darah tinggi, peningkatan diet alpha linolenic acid (ALA) (kacang-kacangan, biji-bijian dan minyak nabati), dan peningkatan diet asam lemak omega-6 (kacang-kacangan, biji-bijian dan minyak nabati). Setiap intervensi juga diberi peringkat berdasarkan kekuatan bukti sebagai dampak risiko tinggi, sedang, rendah atau sangat rendah.

Mayoritas suplemen termasuk multivitamin, selenium, vitamin A, vitamin B6, vitamin C, vitamin E, vitamin D saja, kalsium saja dan zat besi tidak menunjukkan hubungan dengan peningkatan atau penurunan risiko kematian atau kesehatan jantung.

Dalam tiga studi dari 3.518 orang yang melihat diet rendah garam pada orang dengan tekanan darah yang sehat, ada 79 kematian. Para peneliti mengatakan bahwa mereka menemukan penurunan 10% dalam risiko kematian pada orang-orang ini, yang mana mereka diklasifikasikan sebagai dampak terkait sedang.

Dari lima studi di mana 3.680 peserta dengan tekanan darah tinggi menjalani diet rendah garam, mereka menemukan bahwa risiko kematian akibat penyakit jantung menurun sebesar 33%, karena ada 674 kematian akibat penyakit jantung selama masa studi. Mereka juga mengklasifikasikan intervensi ini sebagai bukti moderat dari suatu dampak.
Empat puluh satu penelitian dengan 134.034 peserta mengevaluasi dampak yang mungkin dari suplemen asam lemak omega-3. Dalam kelompok ini, 10.707 orang mengalami peristiwa seperti serangan jantung atau stroke yang mengindikasikan penyakit jantung. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan suplemen dikaitkan dengan penurunan 8 persen dalam risiko serangan jantung dan pengurangan 7 persen pada penyakit jantung koroner dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan suplemen. Para peneliti memberikan peringkat bukti bahwa keterkaitan manfaat atas intervensi ini adalah rendah.

Berdasarkan 25 penelitian pada 25.580 orang sehat, data juga menunjukkan bahwa asam folat dikaitkan dengan penurunan risiko stroke sebesar 20 persen. Sebanyak 877 peserta mengalami stroke selama percobaan. Para penulis menilai bukti keterkaitan atas efek menguntungkan adalah rendah.

Para penulis menunjukkan bahwa penelitian menunjukkan dampak terbesar dari suplementasi asam folat pada pengurangan risiko stroke terjadi di Cina, di mana sereal dan biji-bijian tidak diperkaya dengan asam folat seperti di AS. Jadi, kata mereka, efek perlindungan nyata mungkin tidak berlaku di daerah di mana kebanyakan orang mendapatkan asam folat yang cukup dalam makanan mereka.

Dua puluh penelitian mengevaluasi kombinasi kalsium dengan vitamin D dalam suplemen. Dari 42.072 peserta penelitian, 3.690 mengalami stroke selama percobaan, dan secara bersama-sama para peneliti mengatakan ini menunjukkan 17% peningkatan risiko stroke. Bukti risiko berada pada peringkat sedang. Tidak ada bukti bahwa kalsium atau vitamin D yang diambil sendiri memiliki risiko ataupun manfaat bagi kesehatan.

"Analisis kami membawa pesan sederhana bahwa meskipun mungkin ada beberapa bukti bahwa beberapa intervensi memiliki dampak pada kematian dan kesehatan jantung, sebagian besar multivitamin, mineral, dan berbagai jenis diet tidak memiliki efek terukur terhadap kelangsungan hidup atau pengurangan risiko penyakit kardiovaskular, "kata penulis utama Safi U. Khan, MD, asisten profesor Kedokteran di West Virginia University.

Para Penulis: Muhammad U. Khan dan Shahul Valavoor dari West Virginia University; Haris Riaz dari Cleveland Clinic; Di Zhao, Michael J. Blaha dan Eliseo Guallar dari Johns Hopkins; Lauren Vaughan dan Victor Okunrintemi dari East Carolina University; Irbaz Bin Riaz dan M. Hassan Murad dari Mayo Clinic; Muhammad Shahzeb Khan dari Rumah Sakit John H. Stroger Jr di Cook County; dan Edo Kaluski dari Sistem Kesehatan Guthrie.

Para penulis tidak menerima dukungan keuangan untuk studi penelitian ini dan menyatakan tidak ada konflik kepentingan. 

Lebih lanjut:

  1. Safi U. Khan, Muhammad U. Khan, Haris Riaz, Shahul Valavoor, Di Zhao, Lauren Vaughan, Victor Okunrintemi, Irbaz Bin Riaz, Muhammad Shahzeb Khan, Edo Kaluski, M. Hassan Murad, Michael J. Blaha, Eliseo Guallar, Erin D. Michos. Effects of Nutritional Supplements and Dietary Interventions on Cardiovascular OutcomesAnnals of Internal Medicine, 2019; DOI: 10.7326/M19-0341

Artikel asli:

https://www.sciencedaily.com/releases/2019/07/190716095529.htm?fbclid=IwAR3kmN1IKHgZrylT7YRtZeUMC2B9llWDH0_G2xYaw9CYwFzVjMVBAug3Xfw

 

 

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.