Wawasan Baru tentang Fungsi Otak dalam Pembelajaran Bahasa

Ketika mempelajari bahasa, sisi kiri otak secara tradisional dianggap sebagai pusat pemrosesan bahasa. Tetapi penelitian baru menunjukkan otak kanan memainkan peran awal yang penting dalam membantu pembelajar mengidentifikasi suara dasar yang terkait dengan suatu bahasa. Hal itu bisa membantu menemukan metode pengajaran baru untuk lebih meningkatkan keberhasilan siswa dalam mempelajari bahasa asing.

Bagi kebanyakan penutur asli bahasa Inggris, belajar bahasa Mandarin dari awal bukanlah tugas yang mudah. Mempelajarinya di kelas yang pada dasarnya memadatkan program kuliah satu semester menjadi satu bulan pengajaran intensif - dan menyetujui otak Anda dipindai sebelum dan sesudah - mungkin tampak lebih menakutkan.
 
Tetapi 24 orang Amerika yang melakukan hal itu telah memungkinkan ilmuwan ilmu saraf (Neuroscientist) kognitif dari University of Delaware, Zhenghan Qi dan rekan-rekannya untuk membuat penemuan baru tentang bagaimana orang dewasa mempelajari bahasa asing.
 
Penelitian yang diterbitkan pada bulan Mei 2019 di jurnal NeuroImage, berfokus pada peran belahan otak kiri dan kanan dalam pemerolehan bahasa. Temuan ini dapat mengarah pada metode pengajaran yang berpotensi meningkatkan keberhasilan siswa dalam mempelajari bahasa baru.
 
"Belahan kiri dikenal sebagai bagian pembelajaran bahasa otak, tetapi kami menemukan bahwa belahan kananlah yang menentukan keberhasilan akhirnya" dalam mempelajari bahasa Mandarin, kata Qi, asisten profesor linguistik dan ilmu kognitif. "Hal ini baru," katanya. "Selama beberapa dekade, semua orang fokus pada belahan kiri, dan belahan bagian kanan sebagian besar telah diabaikan."
 
Belahan kiri tidak diragukan lagi penting dalam pembelajaran bahasa, kata Qi, mencatat bahwa penelitian klinis pada individu-individu dengan gangguan bicara telah menunjukkan bahwa sisi kiri otak dalam banyak hal merupakan pusat pemrosesan bahasa.
 
Tetapi, katanya, sebelum individu mana pun - bayi yang belajar bahasa ibu mereka atau orang dewasa yang belajar bahasa kedua - mulai memproses aspek-aspek bahasa baru seperti kosa kata dan tata bahasa, mereka harus terlebih dahulu belajar mengidentifikasi suara-suara dasar atau elemen-elemen fonologisnya. Selama proses membedakan "rincian akustik" dari suara-suara di mana sisi kanan otak adalah kuncinya, menurut temuan baru itu.
 
Para peneliti mulai dengan memaparkan 24 peserta dalam studi ini pada pasangan suara yang serupa tetapi dimulai dengan konsonan yang berbeda, seperti "bah" dan "nah," dan meminta mereka menggambarkan nada, kata Qi. "Kami bertanya: Apakah nada kedua suara itu mirip atau berbeda?" katanya. "Kami menggunakan pola aktivasi otak selama penelitian ini untuk memprediksi siapa yang akan menjadi pembelajar paling sukses" dari bahasa baru".
 
Penelitian dilanjutkan dengan mengajar para peserta dalam pengaturan yang dirancang untuk mereplikasi pengajaran bahasa di perguruan tinggi, meskipun semester normalnya diringkas menjadi Pengajaran empat mingguan. Para siswa mengikuti pelajaran selama tiga setengah jam sehari, lima hari seminggu, menyelesaikan tugas pekerjaan rumah dan mengikuti tes.
 
"Penelitian kami adalah pertama-tama untuk melihat pencapaian dan daya ingatan jangka panjang dari pembelajaran bahasa yang sesungguhnya di dalam ruang kelas, yang merupakan cara kebanyakan orang mempelajari bahasa baru," kata Qi.
 
Dengan memindai otak masing-masing peserta dengan MRI fungsional (magnetic resonance imaging= penggambaran resonansi magnetik) di awal dan akhir proyek, para ilmuwan dapat melihat bagian otak mana yang paling terlibat saat memproses elemen-elemen suara dasar dalam bahasa Mandarin. Yang mengejutkan mereka, mereka menemukan bahwa - meskipun, seperti yang diharapkan, belahan otak  kiri menunjukkan peningkatan aktivasi substansial yang lebih lambat dalam proses pembelajaran –belahan otak kanan pada para pelajar yang paling sukses adalah yang paling aktif di tahap awal, pengenalan suara. "Ternyata belahan otak kanan sangat penting dalam memproses suara bahasa asing pada awal pembelajaran," kata Qi. Dia menambahkan bahwa peran belahan otak kanan kemudian tampak berkurang pada para pelajar yang sukses itu ketika mereka terus mempelajari bahasa itu.
 
Penelitian tambahan akan menyelidiki apakah temuan ini berlaku untuk mereka yang belajar bahasa-bahasa lain, bukan hanya bahasa Mandarin. Tujuan akhirnya adalah untuk mengeksplorasi apakah seseorang dapat mempraktikkan pengenalan suara di awal proses belajar sebuah bahasa baru yang berpotensi meningkatkan keberhasilan mereka.
 
"Kami menemukan bahwa semakin aktif belahan otak kanan, semakin sensitif pendengar terhadap perbedaan-perbedaan akustik dalam suara," kata Qi. "Setiap orang memiliki tingkatan-tingkatan aktivasi yang berbeda, akan tetapi jika anda tidak memiliki sensitivitas untuk memulainya, anda masih dapat belajar dengan sukses jika otak anda cukup mudah untuk dipengaruhi."
 
Para peneliti tidak dapat mengatakan dengan pasti bagaimana menerapkan temuan ini pada pembelajaran kehidupan nyata, akan tetapi ketika sampai pada tahap itu, "Orang dewasa dapat dilatih," kata Qi. "Mereka bisa melatih diri mereka sendiri untuk menjadi lebih peka terhadap suara-suara bahasa asing."
 
Artikel Asli:
https://www.sciencedaily.com/releases/2019/05/190508093716.htm

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.