Bilingual Belum Tentu Meningkatkan Sebagian Fungsi Otak

Berbagai manfaat atas kemampuan berbicara bahasa kedua tak dapat disangkal: salah satunya yaitu biaya logistik akan lebih mudah saat bepergian, akses yang lebih luas ke literatur terkenal dan tentu saja, akan memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berbicara dengan banyak orang.

Beberapa penelitian juga menunjukkan gagasan bahwa Polyglot ((seseorang yang tahu dan mampu menggunakan beberapa bahasa), memiliki keterampilan fungsi eksekutif yang lebih kuat, kemampuan otak seperti beralih di antara tugas dan mengabaikan gangguan.

Tetapi sebuah penelitian besar tentang anak-anak bilingual di AS menemukan sedikit bukti tentang manfaat tambahan otak bilingual tersebut. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa Anak-anak bilingual ternyata tidak melakukan yang lebih baik dalam tes mengukur keterampilan berpikir dibandingkan dengan anak-anak yang hanya mengetahui satu bahasa, Para peneliti melaporkan pada tanggal 20 Mei 2019 di Nature Human Behavior.

Untuk mencari hubungan antara bilingualisme dan fungsi eksekutif, peneliti mengandalkan survei remaja AS yang disebut studi ABCD. Dari data yang dikumpulkan di 21 lokasi penelitian di seluruh negeri, para peneliti mengidentifikasi 4.524 anak usia 9 dan 10. Dari anak-anak ini, 1.740 berbicara bahasa Inggris dan bahasa kedua (kebanyakan Spanyol, meskipun 40 bahasa kedua lainnya diwakili).

Pada tiga tes yang mengukur fungsi eksekutif, seperti kemampuan untuk mengabaikan gangguan atau dengan cepat beralih antara tugas dengan aturan yang berbeda, para peneliti menemukan bahwa anak-anak bilingual melakukan hal yang sama dengan anak-anak yang hanya berbicara bahasa Inggris. "Kami benar-benar melihat," kata rekan penulis studi Anthony Dick, seorang ahli saraf perkembangan kognitif di Florida International University di Miami. "Kami tidak menemukan apa pun."

Hasil itu bertentangan dengan penelitian sebelumnya - kecil dan besar - yang muncul keuntungan dalam tes serupa fungsi eksekutif untuk anak-anak bilingual, meskipun hasil tersebut telah diperdebatkan oleh penelitian lain. Karena ukuran dan faktanya bahwa hal itu telah mewakili banyak komunitas di seluruh Amerika Serikat, serangkaian data ABCD menyajikan "peluang bagus untuk melihat pertanyaan ini," kata Dick.
Dibandingkan dengan anak-anak yang hanya berbicara bahasa Inggris, anak-anak bilingual mendapat skor yang sedikit lebih rendah pada pengujian kemampuan kosa kata bahasa Inggris. Tetapi perbedaannya kecil sekali - “ibaratnya setetes dalam ember,” kata Dick, yang putranya telah mengikuti sekolah bilingual Spanyol-Inggris selama bertahun-tahun.

Tetap saja, kompleksitas dari bilingualisme membuatnya sulit untuk menarik kesimpulan dari hasil-hasil baru, kata ilmuwan sosial Gigi Luk dari McGill University di Montreal. Nuansa tentang apakah seorang anak berbicara bahasa lain di rumah, kapan dan bagaimana bahasa kedua itu digunakan dan bahkan apakah satu bahasa lebih dominan digunakan daripada yang lain, bisa hilang dalam studi besar semacam ini, katanya. "Kami hanya tidak memiliki informasi yang cukup tentang pengalaman dwibahasa yang dialami anak-anak ini setiap hari."

Penelitian ini ditujukan pada pertanyaan sempit apakah bilingualisme meningkatkan fungsi eksekutif otak - bukan pada keuntungan lain yang berasal dari mengetahui bahasa kedua. "Saya tidak ingin hal ini menjadi sebuah makalah tentang bagaimana orang tua seharusnya tidak membiarkan anak-anak mereka belajar bahasa kedua," kata Dick. Sebaliknya, "ada manfaat yang melekat di luar fungsi eksekutif untuk belajar bahasa kedua - manfaat besar."

Sumber:https://www.sciencenews.org/article/being-bilingual-may-not-boost-some-brain-functions?fbclid=IwAR39OCzBVLZRmN3wII79q6Vpju4SrKlDg9xud_w6Kb4QLZ4-N5aJm8V_F8I

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.