Kunjungan Program Studi Biologi Ke Desa Lontar – Serang, Banten

Secara demografis, Desa Lontar berbatasan dengan laut Jawa di sebelah utara, Desa Alang alang di sebelah Selatan, Desa Tengkurak di sebelah timur dan Desa Susukan di sebelah barat. Desa ini berjarak sekitar 15 km dari pusat pemerintahan kecamatan dan 30 km dari ibukota provinsi Banten, Serang. Luas wilayah Desa Lontar 556.5 ha dengan luas pertanian budidaya rumput laut 148,5 ha. Desa Lontar mempunyai iklim tropis sehingga berpengaruh langsung terhadap aktivitas pertanian dan pola tanam. Jumlah penduduk desa Lontar 6.921 orang. Sebanyak 796 merupakan tamatan SD, 348 SLTP, 71 orang SLTA, S1/Diploma 17 orang. Banyak penduduk yang putus sekolah dan buta huruf. 

Tanaman yang diusahakan di sektor pertanian terbatas pada jagung, palawija, tebu, kakao/cokelat dan kelapa. Di sektor peternakan, dijumpai kambing, sapi, kerbau, ayam, itik dan burung. Kolam ikan/embung seluas 8,9 ha dan tambak udang 341 ha. Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah sebagai nelayan 1327 orang, buruh nelayan 522 orang, petani rumput laut 1021 orang, karyawan 500 orang, wiraswasta/pedagang 80 orang, buruh migran 1029 orang dan buruh tani sebanyak 20 orang.

Beberapa kondisi penting yang diinformasikan oleh pihak pemerintah setempat kepada kami saat kunjungan antara lain adalah, bahwa pengangguran masih tinggi. Untuk provinsi Banten bahkan menduduki peringkat ke-2 di Indonesia. Koordinasi antar instansi dalam proses pembangunan wilayah masih belum optimal. Banten termasuk Desa Lontar, menganggap sangat penting untuk meningkatkan kompetensi masyarakat terutaman masyarakat lulusan SMK untuk dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Untuk itu diperlukan adanya sinkronisasi antara lembaga pendidikan, lembaga-lembaga riset/penelitian dengan industri sangat diperlukan. 

Komoditi atau produk yang telah dihasilkan oleh desa Lontar juga perlu ditingkatkan nilai ekonominya. Untuk itu, diperlukan teknologi tepat guna. Dukungan akademisi dari Universitas sangat diperlukan. Dana CSR perlu diidentifikasi untuk menerapkan teknologi tepat guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam yang ada di Desa Lontar sambil mengembangkan lapangan kerja. 

Desa Lontar memiliki posisi yang langsung berhadapan dengan laut Jawa dengan mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Kegiatan atau aktivitas utama penduduk berhubungan dengan pertambakan, budidaya rumput laut, dan pemanfaatan mangrove. Nelayan yang dijumpai di desa ini adalah nelayan tangkap dan nelayan budidaya. Saat ini terdapat sekitar 360 petani rumput laut. Desa Lontar merupakan daerah penyedia rumput laut setelah NTT dan Bali. Jenis rumput laut yang banyak dibudidaya yaitu: Eucheuma cottoniis sehingga desa ini dijuluki sebagai Desa Cottonii. Rumput laut ini dapat digunakan untuk membuat produk kosmetik, makanan, dan kesehatan. Contoh-contoh produk makanan yang telah dikembangkan dari rumput laut oleh UMKM adalah: sabun rumput laut, dodol rumput laut, mie rumput laut, stick rumput laut, dan keripik rumput laut. Produk-produk ini mendapat penerimaan yang baik oleh masyarakat. 

Jenis rumput laut yang juga mereka budidaya yaitu Gracilaria sp yang sering di polikultur dengan bandeng.

Masyarakat Desa Lontar banyak juga yang bekerja di luar negeri seperti di Timur Tengah, Hongkong, Taiwan, Korea, dan lain-lain. Dengan demikian desa ini juga disebut sebagai kantung imigran. Hal ini terjadi karena lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas. Pada umumnya yang berangkat sebagai imigran adalah kaum Ibu. Jika tidak diperhatikan, hal ini dapat mempengaruhi kualitas pendidikan pada anak-anak mereka.

Untuk mengatasi masalah ini, telah dibentuk UMKM. UMKM yang ada di desa ini disebut Pislon (untuk ikan) dan Silon (untuk rumput laut). Dengan adanya UMKM, Desa Lontar diharapkan menjadi desa migran produktif. Saat ini terdapat dua produk karagenan dari rumput laut yang mereka hasilkan yaitu yang berwarna putih (untuk dikonsumsi) dan hitam (yang biasanya diolah sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas dan produk kosmetik. Produk yang dihasilkan biasanya dalam bentuk serbuk. 

Workshop mengenai teknologi ekstraksi karagenan untuk keperluan laboratorium, kesehatan dan kosmetik, pembinaan sumber daya manusia yang ada, dan pembentukan UMKM berbasis teknologi juga dirasa penting untuk diperhatikan untuk memberikan bekal dan skill yang bermanfaat bagi masyarakat yang ada disana. Peran ini dapat difasilitasi dan dilakukan oleh Universitas Surya terutama Prodi Biologi.

Masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat di desa Lontar adalah ketersediaan beras dan air bersih. Masyarakat masih bergantung pada beras dan air bersih yang berasal dari desa sekitar. Air yang ada disana juga merupakan air asin. Masyarakat desa Lontar memiliki sifat konsumtif dikarenakan mereka memiliki anggapan hasil laut melimpah. Jika hasil laut sudah berkurang maka mereka akan bekerja kembali sebagai TKI di luar negeri.

Beberapa pengetahuan tradisional yang dapat dicatat terkait dengan budidaya rumput laut antara adalah bahwa ada syarat-syarat yang harus diperhatikan termasuk arus air, tingkat kecerahan, dan lain-lain.Rumput laut terkadang juga terkena penyakit ice ice. Penyakit ini menyebabkan rumput laut menjadi putih. Perlu dilakukan adanya penelitian mengenai penyebab penyakit ice-ice pada rumput laut tersebut, mekanisme infeksi, bagian yang ditargetkan pada saat infeksi tersebut sehingga produktivitas dari rumput laut yang ada dapat kembali lagi baik. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan di tempat lain, bakteri-bakteri yang ada di laut yang hidup secara epifit pada rumput laut juga mampu memproduksi enzim agarase yang bernilai ekonomis, salah satunya sebagai bahan baku pada industri kesehatan.

Pada tahun 2016 ekspor rumput laut dibatasi oleh pemerintah. Hal ini telah menurunkan semangat para petani rumput laut. Sebagai akibatnya, pasar rumput laut didominasi oleh produk dari Filipina.

Kendala besar yang dihadapi dalam budidaya rumput laut adalah musim hujan (Desember) dan masa pancaroba.

Sumber bibit rumput yang mereka gunakan biasanya berasal dari Lampung dan Bali (jika terjadi krisis bibit). Sementara itu, sumber modal dari mandiri dan bank niaga. Belum ada penggunaan dana bergulir. Perangkat desa memiliki niatan untuk mengembangkan Desa Lontar dengan ciri khasnya seperti  tempat wisata kuliner selain pusat oleh-oleh rumput laut dan wisata mangrove yang dimilikinya. Kehadiran pasar bebas dan produknya menjadi ancaman bagi produk-produk dalam negeri yang kualitasnya bisa jadi lebih baik.

Masalah lain yang terjadi adalah perairan yang ada di desa Lontar tercemar oleh limbah buangan dari pabrik-pabrik dari Cilegon, Tangerang, dan Serang. Untuk itu pula, perlu adanya penanganan serius. Selama kunjungan, kami juga menemukan banyak sampah plastik di tepi perairan. Limbah-limbah tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan dan biota laut lainnya. Kesadaran warga akan bahaya sampah plastik terhadap kehidupan biota laut juga perlu ditingkatkan sehingga masyarakat dapat lebih menghargai lingkungan yang ada di sekitarnya.

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.