Kreasi Pangan Lokal Khas Indonesia Hadir dalam Mini Bazar NFT 2017

“Walaupun cuma sebentar, acara ini berkesan buat saya karena saya bisa melihat kreativitas anak-anak NFT dalam membuat produk.”
“Wah ga nyangka yah, produk-produk makanan yang sepertinya biasa saja ternyata dihargai banget sama orang lain. Rasanya kesusahan satu semester terbayarkan.”

——

Di tengah-tengah kesibukan minggu UAS 26 Juli 2017 lalu, terdapat kemeriahan tersendiri di kelas 101 Universitas Surya. Ternyata, di dalam ruangan ini ujian akhir tidak berlangsung secara biasanya, yang identik dengan kertas, pen, rumus dan hafalan. Ujian hari itu ditutup dengan penyelenggaraan bazaar kecil-kecilan oleh mahasiswa Nutrition and Food Technology  (NFT) angkatan 2014 yang terbuka untuk seluruh civitas akademika SU.

Yang namanya jurusan NFT, pasti erat kaitannya dengan makanan. Namun mahasiswa NFT Surya University tidak hanya belajar tentang kimia pangan, teknik pangan, ataupun hal-hal lain yang dianggap memusingkan bagi sebagian orang. Di NFT, kami juga belajar tentang aspek manajemen dan pendirian usaha di bidang pangan sebagai bekal setelah lulus nanti. Sejak awal semester genap tahun ini, mahasiswa NFT 2014 belajar seluk-beluk pendirian perusahaan pangan industri rumah tangga (PIRT), baik dari aspek manajemen, finansial, sampai pengurusan perizinannya. Sampai saat ini, sudah terdapat beberapa kelompok yang perusahaan PIRT-nya sudah mendapat sertifikasi oleh Dinas Kesehatan setempat. Jadi, tugas yang berjalan selama satu semester penuh ini bukan sekedar simulasi saja. Mahasiswa NFT mengalami secara real bagaimana proses pendirian industri PIRT, sehingga sama sekali bukanlah pengalaman yang sia-sia.

Buah kerja keras para mahasiswa pun terlihat pada selebrasi 26 Juli lalu itu. Sebanyak 15 kelompok beranggotakan 5 mahasiswa menyajikan produk mereka yang beragam. Kelas 101 pun langsung diramaikan dengan orang-orang yang antusias mencoba produk tersebut, baik dari mahasiswa sampai dosen.

Yang membuat bazaar ini unik adalah latar belakang pemilihan produknya. Mahasiswa mengkreasikan produk dari pangan lokal Indonesia yang pemanfaatannya sebagai produk olahan masih minim. Sebut saja daun singkong dan daun pepaya. Selain itu, terdapat juga produk dari bahan yang sudah lazim namun diinovasi menjadi lebih menarik. Di antaranya ada stik tempe, keripik kentang ebi, dan banana chips berbagai rasa. Terdapat juga beberapa kelompok yang memproduksi snack khas Indonesia yang sudah jarang ditemukan di pasaran, misalnya kremes dan opak. Tentunya ini selaras dengan salah satu visi program studi NFT, yaitu mengeksplorasi sumber pangan asli Indonesia untuk Indonesia Jaya.

Salah satu mahasiswa NFT mengatakan bahwa bazaar ini bukan hanya sekedar untuk kemeriahannya saja, tapi juga untuk mendapat feedback mengenai hasil karyanya. “Dengan berbagi hasil produk yang telah dikembangkan selama mengikuti mata kuliah ini, terbuka kesempatan untuk mendapat feedback mengenai produk yang disukai dan dibutuhkan oleh konsumen,” tuturnya. “Cara pandang kita dalam mengembangkan produk pun lebih diperkaya.”
Bazaar ini tentunya menjadi penutup yang berkesan untuk perjalanan yang telah dilewati mahasiswa NFT 2014 mulai dari perencanaan sampai peluncuran perusahaan PIRT mereka masing-masing. Semoga pengalaman ini semakin mempersiapkan mereka untuk menjadi future food technologists yang dibutuhkan Indonesia!

Berita Lainnya