Paper Mahasiswa Green Economy terpilih pada Konferensi Ekonom se-ASEAN ke-41

Mahasiswa Program Studi Green Economy angkatan 2013, yaitu Febyan Perdana Ramadhan, Nika Melly Widyastuti dan Stevany Mangundap berhasil terpilih papernya (selected paper presentation) mewakili Indonesia dan Surya University pada konferensi internasional, The 41st Conference of Federation on ASEAN Economist Association (FAEA 41) dengan tema “Four Pilllars of AEC: Implementation, Prospects and Challenges”, yang diselenggarakan oleh Indonesian Economist Association atau Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) pada tanggal 23-25 November 2016 di The Alana Hotel and Convention Center, Yogyakarta.

Konferensi tersebut diikuti oleh delegasi ekonom negara anggota ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Paper yang terpilih tersebut merupakan lanjutan dari tulisan pada riset mini yang dilakukan pada awal tahun 2016 dibawah bimbingan Kepala Program Studi Green Economy, Victoria Lelu Sabon, Ph.D. Paper tersebut berjudul “The Uniqueness of Russia - ASEAN Partnership in Three Pillars: Politic-Security, Economic, and Socio-Cultural”. Poin-poin yang disampaikan, diantaranya adalah (1) Perkembangan kerjasama dalam bidang politik dan keamanan, perdagangan dan investasi, energi, ketahanan pangan dan agrikultur, pariwisata, pendidikan dan kebudayaan; (2) tantangan kerjasama antara ASEAN-Rusia untuk membuka paradigma serta penyederhanaan prosedural birokrasi; dan (3) Prospek ASEAN-Russia Free Trade Area sebagai gerbang ekspor Indonesia ke Eropa. Selain itu, dipaparkan pula rekomendasi untuk memperkuat kerjasama antara kedua pihak, yaitu mendukung implementasi kerjasama dalam mengatasi kejahatan transnasional, mendorong UMKM dan sektor jasa sebagai penyokong kegiatan ekonomi, dan meningkatkan hubungan people-to-people melalui kebudayaan dan pendidikan.

Konferensi hari pertama, tanggal 23 November 2016 diawali dengan touring seluruh delegasi negara ASEAN ke Candi Borobudur. Kemudian pada sore hari opening ceremony yang dibuka oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid (Head of Organizing Committee), dilanjutkan dengan introductory speech oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin (Head of Steering Committee), sambutan oleh sekretaris Gubernur Yogyakarta dan keynote speech oleh Dr. Muliaman D. Hadad (Chairman of Indonesia Economist Association/ISEI and Chairman of Board of Commissioners of the Financial Services Authority/OJK).

Konferensi hari kedua, tanggal 24 November 2016, dipimpin oleh Dr. Bustanul Arifin, First Plenary Session : 4 pillars of AEC diisi oleh Dr. Siswo Pramono (Head of Policy Analysis and Development Agency, Ministry of Foreign Affairs, Indonesia), Dr. Ahmad Zafarullah (Senior Economist and Assistant Director of the ASEAN Integration Monitoring Directorate of ASEAN Secretariat) dan Dr. Edimon Ginting (Director Economic Analysis and Operational Support Division, Economic Research and Regional Cooperation Department, ADB).

Pada siang hari, acara dilanjutkan dengan Parallel Session IA dan IB di ruangan berbeda yang masing-masing dipimpin oleh Adrian Kemp (delegasi ekonom dari Singapura) dan Dato Latifah Merican Cheong (delegasi ekonom dari Malaysia). Sedangkan pada sore hari, konferensi kembali dilanjutkan di ballroom utama dengan Second Plenary Session: Policy Adaptation and Implementation of AEC yang dipimpin oleh Dinna Wisnu, Ph.D. (Commissioner at ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights) dengan pembicara terdiri dari Imam Pambagyo (Director General of International Trade Cooperation, Ministry of Trade, Indonesia) dan Hans Anand Beck (World Bank Senior Economist).

Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan speech oleh Dr. Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Menkeu menyampaikan bahwa AEC merupakan wadah untuk bersama-sama menghadapi tantangan dengan penguatan pasar domestik yang potensial demi kesejahterakan anggota dan masyarakat ASEAN. Beliau juga mengatakan, salah satu hal penting dalam AEC adalah daya saing (competitiveness) baik di level pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Dengan sinergi ketiganya maka percepatan AEC dapat diimplementasikan dengan baik. Konferensi pada hari ke-2 diakhiri dengan cultural performance sendratari Ramayana oleh para mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

Konferensi hari ke-3 dilanjutkan dengan Parallel Session IIA dan IIB diselenggarakan pada ruangan berbeda yang masing-masing dipimpin oleh George Manzano (delegasi ekonom dari Filipina) dan Prof. Dr. Tran Duc Minh (delegasi ekonom dari Vietnam). Tim Surya University mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan paper dalam Parallel Session IIA. Presentasi pada sesi tersebut disampaikan oleh 6 delegasi, yaitu Adrian Kemp (HoustonKemp Economist, Singapura), Imam Suwita (Kementrian Perdagangan, Indonesia), Dr. Sulthon Sjahril Sabaruddin (Kedutaan RI di Sana’a, Salalah, Yaman), Tim Surya University, Dr. Harold P. Pareja (The Civil Service Commission of the Philippines) dan Ilham Hasura Maulana (Universitas Gadjah Mada).

Pada sore hari, Closing Plenary dengan tema Reflection and the Way Forward Head of Delegation mengajak seluruh delegasi untuk menyampaikan kesimpulan dan pandangannya selama konferensi ini. Prof. Dr. Edy Suandi Hamid (Head Organizing Committee) mengatakan bahwa pasar tunggal mampu membawa kesejahteraan bagi warga ASEAN karena kecenderungan global mengarah pada gaya proteksionisme yang sekaligus dianggap sebagai tantangan besar bagi negara ASEAN untuk lebih percaya diri memanfaatkan kerjasama ekonomi regional ASEAN. Disepakati pula penyelenggaraan konferensi selanjutnya (FAEA 42) akan dilaksanakan pada minggu ketiga bulan November 2017 di Malaysia dengan tema “Ideas by Heads of Delegations”.

Tim Surya University bersyukur dapat mengikuti koferensi ini, menambah wawasan dan semangat, serta membuka jaringan persahabatan dengan para pakar & ekonom dari negara anggota ASEAN lainnya. Keikutsertaan ini menjadi kebanggaan Surya University dan Program Studi Green Economy di forum koferensi internasional.

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.