Show Kedua SUSSU 2016

Pada hari Rabu, tanggal 22 Juni 2016, seminar kedua Surya University Student Speak Up (SUSSU) berlangsung di Ruang 101 Kampus Surya University. Show kedua ini dibawakan oleh tiga orang mahasiswi dari dua program studi yang berbeda, yaitu Jaqualine Wijaya dari program studi Nutrition and Food Technology, serta Dewi Christina dan Hazrina Fauhan dari program studi Biotechnology and Neuroscience. Ketiga mahasiswi ini telah diberikan dua kali pelatihan oleh Bapak Leo Alexander selaku dosen dari program studi Technopreneurship dan Ibu Helena Rebecca yang merupakan dosen mata kuliah Bahasa Indonesia di Surya University. Pelatihan mental dan teknik-teknik presentasi yang telah diberikan berhasil membuat ketiga pembicara ini membawakan materinya dengan lebih baik pada saat seminar dibandingkan saat latihan.

Sebelum seminar dimulai, peserta melakukan registrasi ulang dari pukul 16.30–17.00 WIB. Lima orang peserta VIP diarahkan duduk di barisan depan dan diberikan konsumsi oleh panitia. Begitu pula enam orang peserta spesial yang diundang oleh para pembicara juga dipersilahkan duduk di tempat yang telah disediakan. Pukul lima tepat pembawa acara yang telah diundang oleh panitia, Gervasius Harwin, membuka seminar kedua SUSSU.

Seminar dihadiri oleh 44 orang peserta. Materi pertama dibawakan oleh Jaqualine dengan judul “Facing World Hunger in 2050”. Jaqualine menguraikan secara detil bagaimana dampak pertumbuhan penduduk Indonesia yang begitu pesat dapat mengarah kepada bencana kelaparan pada tahun 2050. Tidak hanya itu, Jaqualine juga mengajak peserta untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dapat membawa perubahan besar bagi keberlangsungan pangan, sehingga bencana kelaparan tersebut dapat dihindarkan.

Setelah istirahat berbuka puasa selama kurang lebih 20 menit, pembicara kedua, Hazrina Fauhan, membawakan seminar dengan judul “Hukum Kebiri dari Perspektif Neuroscience”. Awalnya pembicara menceritakan secara singkat bagaimana kinerja saraf-saraf pada otak manusia jika mengalami pelecehan seksual, disertai dengan cerita pengalaman yang dialami oleh temannya terkait dengan pelecehan seksual tersebut. Setelah itu pembicara menjelaskan bagaimana pandangan neuroscience terhadap hukum kebiri.

Seminar ditutup oleh materi dari pembicara ketiga, Dewi, yang membahas mengenai ular dengan judul “Waspadai tapi Jangan Bunuh Ular”. Pada seminar ini, Dewi menjabarkan dengan lancar kekayaan Indonesia khususnya komodoti ular. Kemudian pembicara juga menjabarkan bagaimana cara membedakan ular yang berbisa dan tidak berbisa, tips dan trik untuk menjaga rumah agar tidak didatangi ular, serta cara menghadapi jika ular masuk ke dalam rumah atau jika tergigit oleh ular. Sebelum show berakhir, penonton dipersilahkan untuk bertanya kepada ketiga pembicara. Setelah itu, pembawa acara pun menutup acara tersebut dengan beberapa pengumuman mengenai show selanjutnya, dan show kedua SUSSU diakhiri dengan sesi foto bersama.

Berita Lainnya