Pasar Modal dalam Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

Program Studi Green Economy menyelenggarakan acara Professional Program for High School and Economics Teachers dengan mengusung tema “Pasar Modal dalam Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan” pada hari Rabu tanggal 25 Mei 2016. Bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (IDX) dan PT Sucorinvest Central Gani, acara ini merupakan bentuk langkah nyata dalam untuk pengembangan pendidikan ekonomi berkelanjutan dan sharing knowledge kepada Stakeholders Sekolah Menengah Atas (SMA) serta peningkatan kompetensi Guru Ekonomi di Indonesia. Acara ini menghadirkan 3 (tiga) orang pembicara dengan topik terkait, yaitu Bp. Tjipto Juwono, Ph.D., Econophysicst, Surya University, Bp. Nicky Hogan Direktur Pengembangan, Bursa Efek Indonesia dan Bp. Sutrisna Amijaya, Investor Specialist PT. Sucorinvest Central Gani. Puluhan SMA-SMA terbaik se-Indonesia menghadiri acara ini dengan antusias.

Dipandu oleh mahasiswa berprestasi Program Studi Green Economy, yaitu Lukmanul Hakim dan Shintya Devi A. sebagai MC serta Widya Putri Sunjata dan Stacia Dorothy Tobing sebagai moderator, pada mulanya acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Surya oleh Genta Surya Choir (GSC). Kemudian acara dibuka dengan sambutan oleh Wakil Rektor V bidang Penelitian dan Kerjasama, yaitu Ibu Faizah Sari, Ph. D. dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Himpunan Program Studi Green Economy (HMPS GE), Billy Anjaswara.

Pembicara pertama adalah Bapak Tjipto Juwono mengenai risetnya tentang Trend dan Model Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan. Kesimpulan dari hasil simulasi saham yang beliau lakukan adalah bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan kerja kolektif dari semua orang. Apabila setiap orang bekerja sama disertai memiliki kemampuan untuk memahami tentang masa depan manusia dan planet bumi, kesadaran akan keberlanjutan, mengambil keputusan tanpa dikendalikan oleh kekuatan terpusat atau kepentingan-kepentingan terpusat, maka pembangunan yang berkelanjutan sebagai tujuan kolektif dapat tercapai.

Pembicara kedua adalah Bapak Nicky Hogan tentang Peran Pasar Modal dalam Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan menjelaskan pasar modal serta stabilitas ekonomi Indonesia yang telah mengundang sentimen positif terhadap kinerja pasar modal Indonesia, ditujukkan dengan kinerja IHSG yang positif sejak awal tahun 2016, yaitu 4,87% atau pada peringkat ke 9 dunia.

Pembicara terakhir adalah Bapak Sutrisna Amijaya dengan topik Kiat Sukses Berinvestasi di Pasar Modal diakhir pemaparannya beliau memberikan tips berinvestasi di pasar modal, yaitu memahami produk, mengamati secara seksama, melakukan diversifikasi produk investasi, melakukan monitoring secara teratur, tidak mengharapkan untung besar dengan cepat dan tidak panik.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab seputar topik yang dibawakan oleh ketiga pembicara. Yang menarik dalam acara ini seluruh peserta dari SMA diajak berkunjung ke Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Lab. Program Studi Green Economy di Lt.5, Surya University Campus Hub. Dipandu oleh Bapak Andri, Bapak Rio, dan Bapak Arby dari PT Succorinvest Central Gani, guru-guru SMA diajak melihat dan mencoba langsung bagaimana trading di pasar saham. Selanjutnya, mereka diajak melihat berbagai pameran karya riset mahasiswa Surya University dari berbagai program studi di Lt. 5 dan 2, diantaranya adalah Program Studi Technopreneurship, Human Computer Interaction (HCI), Physics Energy Engineering (PEE), Digital Communication (DCC) dan Agribusiness.

Di akhir acara, peserta menyantap makan siang dan ramah tamah dihibur dengan penampilan Genta Surya Choir (GSC), dilanjutkan dengan sharing dosen Program Studi Green Economy yang juga telah berkiprah di dunia kerja bidang Green Economy, lulusan dari University of  Twente, Belanda, yaitu Ibu Maulin Arifianti Hidayah, M. Sc., serta 2 orang mahasiwa Program Studi Green Economy, yaitu Widya Putri Sunjata yang menceritakan pengalamannya pada tahun 2015 ia bersama dengan kedua rekannya berhasil menjadi salah satu finalis dan mewakili Indonesia pada kompetisi Hult Prize yang diselenggarakan di Shanghai, Cina ,dan pada awal tahun 2016 telah menyelesaikan magang di PT Indomarco Prismatama, serta Stacia Dorothy Tobing yang hasil risetnya telah dipublish pada Jurnal Internasional, yaitu International Journal of Management Science and Business Research, Vol 4, Issue 9.

Dalam acara ramah tamah tersebut, Ibu Victoria Lelu Sabon, Ph.D., selaku Kepala Program Studi Green Economy, memperkenalkan secara singkat tentang Program Studi Green Economy, Surya University. Kurikulum pengajaran prodi Green Economy benchmark ke United Nations tentang The Green Economy: Trade and Sustainable Development, serta benchmark ke Harvard Business School pada Faculty & Research Business, Government and the International Economy. Saat ini berbagai negara dunia bergerak menuju ke Green Economy. Pemerintah Republik Indonesia juga telah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26%, serta menghimbau seluruh Perusahaan besar Indonesia untuk memperhatikan lingkungan dalam perhitungan produksinya.

Berdasarkan data IRENA Green Jobs 2014 by Country: kebutuhan dunia terhadap Tenaga Ahli di bidang Green Economy meningkat sebesar 1,2 miliar orang dalam kurun waktu 1 tahun, sedangkan para Tenaga Ahli di bidang Green Economy tersebut masih sedikit jumlahnya. Kedepan, Lulusan Program Studi Green Economy Surya University tentu akan sangat dibutuhkan, dan akan berkiprah tidak hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai Negara dunia yang telah bergerak ke arah Green Economy.

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.