Econophysics: Impact of Natural Phenomena to Green Economy

Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika Energi bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Green Economy mengadakan sebuah kegiatan diskusi mengenai “Impact of Natural Phenomena to Green Economy” (Dampak fenomena alam pada perekonomian hijau). Takshow ini mengundang tiga pembicara baik dari akademisi dan praktisi. Ketiga pembicara tersebut adalah Dr. Widhyawan Prawiraatmadja, Dr. Johny Setiawan, dan Mr. Stephan Blocks.

Acara ini dimulai dengan registrasi ulang peserta yang sudah mendaftar sebelumnya. Diskusi ini dibuka oleh MC Kholisma Naji Khatin dari prodi Green Economy dan Isaiah Mattathias Chow dari prodi Physic Energy Engineering. Pada pukul 09.10 WIB, peserta berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Universitas Surya dengan dibimbing oleh paduan suara Universitas Surya.

Pukul 09.15 WIB, ketua panitia Ranti Mifthahurrahmi memberikan kata sambutan serta dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Niki Prastomo selaku Wakil Rektor I. Sebelum masuk kedalam inti acara, MC mengadakan sesi games yang berisikan mengenai diskusi ini. Kemudian, MC memperkenalkan data pribadi moderator dan mempersilakan moderator memandu jalannya acara.

Acara ini dimoderatori oleh Bapak Tjipto Juwono selaku dosen di Program Studi Green Economy. Acara pun dimulai oleh Bapak Widyawan Prawiraatmadja sebagai pembicara pertama. Beliau adalah Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan sebagai Ketua Focus Group Ketahanan Energi dan Pengembangan Energi Terbarukan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia). Beliau menjelaskan tentang “COP21 and its Implementation for Green Economy in Indonesia” (COP21 dan implementasinya untuk Ekonomi Hijau). Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu perekonomian terbesar di dunia. Hal ini terlihat bahwa pada tahun 2014, Indonesia menduduki peringkat sembilan. Kemudian pada tahun 2030, Indonesia diprediksi akan menduduki peringkat lima. Dan pada tahun 2050, Indonesia akan menduduki peringkat empat dunia (Ranking by GDP).  Adapun keterkaitannya dengan COP21, Pemerintah Indonesia masih mempertimbangkan hampir semua aspek yang paling relevan. Dengan adanya kesepakatan COP21, masyarakat setidaknya belajar untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menggantinya dengan energi baru terbarukan agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun, tentu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai target tersebut.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Dr. Johny Setiawan, dengan judul “The Nature, Technology, and Green Economy” (Alam, Teknologi dan Ekonomi Hijau). Dr. Johny Setiawan saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4). Dari pemaparannya, beliau menyimpulkan beberapa aspek penting yaitu, Alam merespon kegiatan ekonomi, dimana dari setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia akan menimbulkan dampak bagi alam. Hal ini menjadi penting karena biaya bencana alam bisa lebih tinggi dari investasi dalam perekonomian berkelanjutan. Bagaimanapun juga, perubahan iklim yang sedang berlangsung harus diantisipasi. Saat ini teknologi penghijauan terlalu lambat tumbuh dan perlu banyak diterapkan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan pemikiran dan tindakan yang lebih cepat untuk menyelamatkan planet ini.

Pembicara yang terakhir dan tidak kalah menariknya adalah Mr. Stephan Blocks, Deputy Head of Business Development, German-Indonesian Chamber of Industry & Commerce / EKONID. Mr. Stephan Blocks menjelaskan mengenai “Green Development in Germany and Cooperation Opportunities with Indonesia” (Pembangunan berkelanjutan di Jerman dan Peluang kerjasama dengan Indonesia). Beliau memaparkan bahwa Indonesia berpeluang dalam membangun penghijauan dunia yang akan berimplikasi besar untuk mengurangi pemanasan global. Dari rencana ini, diharapkan akan terjadi kerjasama jangka panjang antar negara, termasuk Indonesia dan Jerman.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab seputar topik yang dibawakan oleh ketiga pembicara. Sebelum seluruh rangkaian acara ini selesai, perwakilan dari Surya University memberikan goodie bag berupa buah merah dan karikatur kepada ketiga pembicara. Di akhir acara ditutup dengan kegiatan foto bersama panitia, pembicara, dan peserta.

Acara ini sangat menarik, karena menumbuhkan rasa cinta mahasiswa kepada lingkungan serta minat mahasiswa untuk semakin memperhatikan dan terus menjaga keberlanjutan iklim yang sehat di muka bumi.

Berita Lainnya

Wisuda II & Dies Natalis V - 13 Oktober 2018
Universitas Surya kembali meluluskan 299 mahasiswa dalam wisuda kedua tahun ini, yang berlangsung di Hotel Olive, Tangerang, Sabtu, 13 Oktober 2018. Sebanyak 84 wisudawan berhasil mendapatkan predikat pujian atau cum laude. Wisuda II tahun ini mengusung tema:"Generasi Indonesia Jaya Menjunjung Kebhinekaan". rnrn"Proses pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama pembangunan bangsa, dan pendidik yang berkualitas sebagai faktor penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi untuk mencapai Indonesia jaya," kata pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya. Para wisudawan, kata Prof Yohanes Surya, diharapkan tetap memegang nilai-nilai kebhinekaan, jangan membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, dan berbagai hal yang menyebabkan terjadinya sekat-sekat yang bisa merusak persatuan.rnrn"Nilai kebhinekaan inilah yang akan mempersatukan para wisudawan di tempat berkarya. Ada suatu kebebasan yang wisudawan akan alami ketika mereka menanamkan nilai ini dalam hidup mereka. Para wisudawan akan terlepas dari belenggu primordialisme, dari belenggu egoisme yang hanya mau menang sendiri, dan belenggu pertengkaran," tambahnya.