Spirulina “The Super Food” dan Risetnya di Surya University

Spirulina merupakan organisme yang tergabung dalam golongan blue-green alga. Alga ini mengambil energi dari proses fotosintesis yang menggunakan cahaya matahari.  Nama ilmiah Spirulina adalah Arthrospira platensis dan Arthrospira maxima.

Spirulina banyak ditemukan di danau dan berasal dari Meksiko dan Afrika. Permintaan terhadap Spirulina cukup tinggi namun produksinya masih rendah, sehingga potensi pasarnya besar.

Spirulina menarik karena kandungan nutrisinya sendiri yang sudah dikeringkan tersebut kaya akan protein, dan juga mengandung nutrisi yang relatif lengkap, karena mengandung Protein 50-60%; Karbohidrat 20-25%; Lemak 7-10% (termasuk Omega 3 dan 6); Vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B9, C, D, E, K; Kalsium; Zat besi; Magnesium; Mangan; Fosfor; Kalium; Sodium, dan Zinc.

Oleh karena itu, Spirulina dikenal juga sebagai super food karena kandungan komplit yang terkandung di dalamnya dan dibutuhkan tubuh sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup.

Walaupun Spirulina termasuk mikroorganisme tetapi ia digolongkan ke dalam golongan alga karena ia hidup di air dan melakukan fotosintesis. Spirulina sendiri merupakan makanan tambahan. Manusia beradaptasi untuk berbagai jenis makanan dan Spirulina ini untuk melengkapi gizi yang dibutuhkan tubuh,” ungkap Yalun Arifin, Ph.D., Kepala Program Studi Chemical & Green Process Engineering (Teknik Kimia) Surya University.

Spirulina juga aman dikonsumsi karena sudah disetujui oleh FDA (Food and Drug administration) AS pada tahun 2003, WHO (World Health Organization) pada tahun 1993 yang menyatakan cocok untuk pangan, dan FAO (Food and Agriculture Organization) pada tahun 2008 yang menyatakan bahwa Spirulina baik dikonsumsi.

Disamping dikenal sebagai super food, Spirulina juga memiliki beragam manfaat dan khasiat lainnya seperti bisa mengontrol sistem imun (kekebalan tubuh), sebagai antioksidan, anti kanker dan antivirus. Spirulina juga bisa mengurangi lemak yang berbahaya, membantu pertumbuhan sel Lactobacillus yang merupakan bakteri bermanfaat dalam usus, membantu mencegah diabetes (dengan cukup konsumsi Spirulina sebanyak 2 gr/hari selama 3 minggu bisa mengurangi level gula darah). Manfaat lainnya adalah membantu mencegah obesitas dan membantu melawan keracunan logam berat. Di samping itu, Spirulina bermanfaat untuk industri peternakan dan perikanan karena meningkatkan kualitas hasil ternak dan ikan. Spirulina juga bisa diaplikasikan untuk kecantikan dan kosmetik sebagai cleanser, toner, masker, dan moisturizer, cocok untuk pelembab dan mencegah keriputan dini, serta tingginya kandungan protein di Spirulina bisa membantu penyusunan kolagen di lapisan kulit yang penting dalam proses perbaikan kulit.

Surya University sebagai universitas berbasis riset (research-based university) pertama di Indonesia menerapkan pembelajaran berbasis riset (research-based learning) dalam perkuliahan. Termasuk mahasiswa program studi Teknik Kimia di Surya University juga ditawarkan untuk melakukan mini riset tentang Spirulina disamping mereka juga dibebaskan memilih topik mini riset sesuai minat masing-masing. Materi tentang Spirulina juga disisipkan pada beberapa mata kuliah yang ada di program studi Teknik Kimia Surya University karena termasuk dalam green-process engineering.

Saat ini, mahasiswa yang sudah terlibat dalam riset tentang Spirulina yakni mahasiswa angkatan 2013 dan 2014 kebanyakan dari program studi Teknik Kimia dan program studi Biotechnology Surya University. Walaupun budidaya Spirulina yang dilakukan masih dalam skala laboratorium, para mahasiswa tetap antusias dalam belajar dan melakukan risetnya,” ujar Bapak Yalun Arifin yang juga aktif di Center for Bioenergy and Bioproducts Surya University.

Mahasiswa Surya University yang ikut terlibat dalam riset Spirulina ini pada awalnya di tahun ke-1 biasanya akan mengamati dan meniru teknik budidaya spirulina. Mahasiswa di tahun ke-2 nantinya akan sudah memulai riset yang lebih mendalam, seperti kegiatan ekstraksi zat pewarna di Spirulina tersebut (blue-green alga), misalnya kalau makanan yang diberikan pada Spirulina divariasikan maka hasilnya akan seperti apa, dsb. Dan tentunya mahasiswa di tahun ke-3 akan mempelajari lebih dalam kepada pengembangan spirulina pada skala industri.

Mahasiswa kita sendiri sudah terlibat di proyek industri dalam perancangan Spirulina Farm. Selain itu, Kimia Farma juga sudah tertarik untuk menguasai teknik ekstraksi pewarna biru alami Spirulina untuk keperluan komersil. Tak ketinggalan pihak Indocement pun bekerja sama dengan Surya University. Ini merupakan bagian dari kegiatan CSR PT Indocement karena ia mau mengembangkan area yang dekat dengan pemukiman dan memanfaatkan tanah PT Indocement di Bogor untuk pertanian terintegrasi,” ungkap Pak Yalun Arifin.

Di samping itu, kerja sama penelitian alga juga sudah dilakukan Surya University, yakni dengan perusahaan Maris BV (Belanda) yang sudah berjalan selama 2 tahun. Maris BV sendiri sudah berpengalaman selama 12 tahun dalam teknologi algae. Selain itu, Surya University juga bekerja sama dengan University of Canterbury, New Zealand, untuk konsultasi terkait tentang fotobioreaktor untuk alga, yang sudah terjalin selama 6 bulan.

Saat ini, tim dosen pengampu program studi Teknik Kimia di Surya University yang terdiri dari Yalun Arifin, Ph.D., Niken Taufiqurrahmi Listyorini, M.Sc., Ibu Pijar Religia, M.T dan lainnya sedang mempersiapkan sistem pertanian terpadu berbasis Spirulina. (***)

Berita Lainnya