Background
News
Sampah Plastik, Pengganti Bahan Bakar.
Author: Dr. Eng. Bayu Indrawan, S.E., S.T., M.T.
Kamis, 19 Juni 2014

Kehidupan manusia saat ini tidak terlepas dari penggunaan plastik. Namun disisi lain, plastik merupakan bahan anorganik, yang membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk dapat terurai dalam tanah. Perlu dikembangkan solusi yang tepat agar dapat mengurangi sampah jenis plastik tersebut, sekaligus menghasilkan produk lain yang bermanfaat dan berdayaguna.

Sehubungan dengan itu, belakangan kita mengenal istilah proses daur ulang plastik. Yaitu pemanfaatan sampah plastik menjadi produk yang lebih bermanfaat, dikarenakan semakin meningkatnya kepedulian berbagai pihak akan lingkungan yang sehat berkelan- jutan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan berkenaan den- gan itu adalah konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak setara bensin dan solar. Proses ini dapat dilakukan ka- rena pada dasarnya plastik ada- lah polimer atau rantai panjang atom yang saling mengikat satu sama lain. Karena pada dasarnya plastik berasal dari minyak bumi, maka proses ini dapat dikatakan hanya mengembalikannya ke dalam bentuk asal mulanya.

Dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, termasuk yang berkaitan dengan teknologi pengolahan sampah, maka pengembangan teknologi konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak yang setara dengan bensin dan solar belakangan ini pun marak dilakukan. Misalnya di Jepang, Jerman, Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya. Bahkan di sejumlah negara itu, pabrik skala komersial pun sudah mulai diaplikasikan, untuk menghasilkan produk bahan bakar minyak dalam jumlah yang besar.

Sayangnya di Indonesia pengembangan teknologi ini belum mendapatkan perhatian yang semestinya. Apalagi untuk sampai pada skala komersial. Padahal, bila teknologi ini dikembangkan, maka produk yang dihasilkan dapat menjadi alternatif pengganti bahan bakar minyak konvensional yang harganya semakin mahal dan cadangannya semakin menipis. Di samping itu, pengembangan teknologi ini juga akan dapat menyelesaikan salah satu persoalan mengenai sampah, khususnya sampah plastik.

Sebenarnya teknologi konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak ini merupakan teknologi yang menggunakan mekanisme pirolisis. Yaitu, proses degradasi termal dengan cara memanaskan plastik tanpa oksigen dalam kondisi tekanan atmosfir pada temperatur sekitar 370-420 derajat C. Pada temperatur tersebut plastik akan mencair dan berubah menjadi gas, sehingga rantai panjang hidrokarbon akan terpotong menjadi rantai pendek. Langkah berikutnya yang mesti dilakukan setelah itu adalah proses pendinginan gas tersebut, sehingga akan terkondensasi dan berubah menjadi cairan. Cairan inilah yang nantinya menjadi bahan bakar minyak, baik berupa minyak tanah, solar maupun bensin.

Pertanyaannya sekarang, seberapa baik kualitas produk bahan bakar minyak yang dihasilkan melalui proses ini? Tentu saja, kualitasnya akan sangat tergantung dari beberapa parameter, seperti jenis sampah plastiknya, temperature dan jangka waktu proses pembuatannya. Bagaimanapun, untuk menghasilkan produk bahan bakar minyak yang lebih berkualitas, maka dalam proses tersebut dibutuhkan katalis.

Katalis tersebut dapat terbuat dari zeolit yang bisa didapatkan dengan mudah dan harga yang murah di Indonesia. Soalnya, Indonesia mempunyai potensi zeolit alam yang sangat banyak. Dengan produksi sampah plastik yang begitu besar di negeri ini, Indonesia dapat dikatakan memiliki salah satu sumber energi alternatif dalam bentuk minyak tanah, besin dan solar yang sangat besar pula. Satu kilogram plastik dapat meng- hasilkan kurang lebih satu liter minyak. Ini menjadi sebuah tantangan yang menarik, ketika produksi sampah kita begitu besarnya sehingga diperlukan solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Sementara kebutuhan akan sumber energy konvensional yang terus meningkat tidak sebanding dengan ketersediaan bahan bakunya yang semakin menipis. Semua itulah yang melatarbelakangi Indonesia Center for Waste Management – Surya University, sebagai research center dibidang teknologi dan pengelolaan sampah pertama di Indonesia, untuk mengembangkan teknologi konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak tersebut dengan skala semi komersial. Diharapkan, pengaplikasian teknologi tersebut akan menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata untuk Indonesia dalam bidang energi dan lingkungan.***

Dr. Eng. Bayu Indrawan, SE, ST, MT
Director of Indonesia Center for Waste Management, Surya University